Cerita berikut merupakan pengalaman pribadi dari seseorang yang saya kenal dekat di tempat kelahiran saya di Bandar Lampung. Semoga cerita ini dapat menginspirasi dan menggugah semangat anda dalam berkarir.


In Memoriam, –

untuk yang tidak pernah berhenti berusaha,  (alm) H. Hasan Junaidin. (1969-2009)

you’re just like a father for us,

 

Pak Hasan, seperti itulah kami memanggilnya. Seorang pria yang bersahaja dan ramah walaupun saat itu ia seorang pria berkeluarga yang sibuk dengan urusan bisnisnya di luar kota namun hubungan dia dan keluarga sangat baik dengan lingkungan sekitar. Di saat senggangnya ia sering menghampiri kami para anak-anak muda dan rekan sejawatnya di kedai kopi hanya untuk bersenda gurau dan bercerita.

Satu cerita tentangnya yang sangat masih kuingat, yaitu tentang bagaimana dia dan apa yang ia lakukan sehingga ia sampai di titik puncak karirnya. Cerita yang begitu menginspirasi kami, dan aku akan menceritakannya untuk anda.

Hasan Junaidin adalah seorang transmigran asal tanah Jawa yang hijrah ke Sumatera diumurnya yang ke-15 bersama keluarga. Di tahun-tahun pertama tak ada yang bisa diharapkan di tanah Sumatera selain tanah kosong untuk pertanian dan perkebunan, hingga Hasan muda menginjak umurnya ke-18 mereka sekeluarga hidup dari itu. Cerita berbalik setelah seorang paman Hasan datang berkunjung dari Jakarta, dengan membawa keahlian yang saat itu masih sangat baru bagi Hasan muda. Om Rudi ia biasa dipanggil, dan ia berkata sesuatu kepada Hasan “aku datang untuk memberimu sesuatu untuk hidupmu yang lebih baik, yaitu Otomotif”.

Ia buta akan istilah itu, bahkan bisa dibilang beruntung ketika masih sempat mengecap pendidikan hingga SMP untuk anak seumurnya. Namun keseriusannya dalam belajar tidak bisa diremehkan, terbukti hanya dalam kurun waktu setahun ia sudah dipercaya memperbaiki Toyota tua milik tetangganya. Selama 2 tahun Hasan muda diajarkan banyak hal tentang Otomotif oleh Om Rudi sebelum ia akhirnya kembali ke Jakarta untuk pekerjaan.

Beranjak 20 tahun Hasan muda mulai memikirkan bagaimana kehidupan kedepannya akan berlanjut dengan keadaan perekonomian keluarganya yang masih sangat kurang. Karenanya ia enggan meninggalkan keluarganya untuk kembali ke tanah Jawa, dan ia bertekat untuk mampu menghidupi diri dan keluarganya sekarang di tanah Sumatera. Om Rudi mengajarkan begitu banyak hal tentang Otomotif padanya tapi tidak tentang Bisnis dan Manajemen agar bagaiman suatu bisnis pertama kali itu bisa berjalan baik dan berkembang.

Mulai berpikir bahwa ia memiliki ilmu yang yang jarang dimiliki oleh anak seumurannya namun itu tidak membuatnya mudah sama sekali, pekerjaan bengkel di daerahnya sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada dalam radius 10km dari rumahnya. Berangkat untuk ijin pergi ke kota, ia hanya bermodal uang seadanya dan tanpa membawa ijazah apapun. Pikirannya sederhana cukup temui yang punya bengkel bicara seadanya dan ia akan diterima bekerja di kota. Namun tidak demikian keadaan yang ia dapati, ketika bertemu dengan setiap Manajer yang dia temui ia selalu dittanya “mana Ijazah SMK mu?”.

Kini Hasan muda mengerti bahwa susahnya mendapat pekerjaan ketika kau tidak memliki Ijazah setingkat SMA/SMK. Menyadari hal tersebut dia tidak lantas langsung menyerah terhadap keadaannya, berusaha tetap sekuat tenaga untuk mencari bengkel-bengkel kecil yang mau menerimanya setibanya di bengkel Pak Rojali usaha pencariannya pun berbuah hasil.

Menetap di kota dengan kehidupan keras khas orang asli Sumatera, ia bertekat untuk berusaha menghidupi dirinya dengan bekerja sebaik mungkin. Namun Sumatera, kuberi tahu sesuatu jika kau orang asing yang baru disana hidup dilingkungan orang asli Sumatera pada saat itu yang kau tahu hanyalah bagaimana kau bisa melanjutkan hidup esok paginya, yang artinya kehidupanmu akan dimonopoli oleh rasa persaingan dan individualitas. Namun ya, jaman sudah berubah sekarang setiap orang selalu bergantung pada orang lain meski untuk kepentingan diri sendiri.

Anyway, Hasan muda mulai memahami bahwa dengan hanya bekerja di bengkel kecil tak akan merubah apapun dalam hidupnya. Berpikir sejenak untuk keluar dari pekerjaannya, akhirnya ia mengmbil langkah berani melanjutkan kehidupannya di kota lain, bermodalkan gajinya selama setahun bekerja ia mulai menantang kota Bandar Lampung untuk menerimanya. Kedatangannya bukan untuk mencari bengkel lain lagi untuk bekerja, tapi ia jauh lebih berani lagi setengah jumlah uang yang dimilikinya saat itu ia gunakan untuk keperluan mencari tempat pelatihan bisnis manajemen, les komputer, bahkan ia sama sekali tidak pernah menyentuh komputer sekalipun saat itu.

Kali ini pikirannya cukup kompleks untuk yang satu ini, ia memahami bagaimana orang bisnis yang mengerti manajemen mampu mengambil alih semua kemampuan yang dimiliki oleh para pekerja, dalam arti lain ia mulai berpikir untuk bagaimana agar bisa menjadi seorang Bos. Di sisi lain minatnya yang kali ini berbeda yaitu mengenai perangkat komputer, alasan hanya satu Ia bertaruh terhadap dirinya sendiri bahwa perangkat ini akan mampu berkembang sangat pesat di tahun-tahun mendatang ketika ia siap menjadi seorang yang menggeluti bisnis. Bermodalkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap keyakinannya ia mulai mersakan perubahan signifikan terhadap pola pikirnya tentang pekerjaan, saat itu ia bekerja malam sebagai satpam di sebuah Rumah Sakit untuk mampu menyambung hidup dengan aktifitas siang untuk mengikuti les dan pelatihan-pelatihan bisnisnya.

Setahun berselang setelah ia melewati hari-hari beratnya dengan lingkungan yang sama sekali asing baginya, menginjak tahun kedua dari pelatihan-pelatihan tersebut para Mentor memberikan syarat untuk penyertifikasian adalah melalui kerja nyata. Kerja nyata yang dimaksud adalah para member harus mampu mengaplikasikan pemahaman teorinya tentang bisnis manjemen di lingkungan bisnis sesungguhnya. Setengah tahun training yang menghabiskan waktu, energy dan dana yang tidak sedikit akhirnya berbuah hasil, ia diterima sebagai tenaga honor di suatu perusahaan akutansi, banyak ilmu baru yang ia serap disana dalam bidang manajemen keuangan, bagaimana ia harus bersikap ketika menghadapi customer, rekan bisnis penting, klien asing, dan bahkan Bos yang menjengkelkan.

Sertifikasi berhasil didapat, meskipun Ijazah tidak ia miliki namun ia patut berbangga akan kemampuan softskill yang ia miliki. Lantas selanjutnya apa? Ia mulai berpikir yang dimilikinya sekarang masih berbentuk abstrak ia tidak meragukan bahwa dirinya masih dalam keadaan miskin, dan itulah yang menjadi motivasi dirinya bukan lagi tentang bagaimana kau akan bisa makan esok harinya tetapi bagaimana mengempaskan kemiskinan dalam hidupmu selamanya. Merenungi apa yang harus dilakukan, yang dimilikinya setelah masa-masa pelatihan hanyalah beberapa lembar sertifikat dan kartu nama orang-orang yang pernah ia temui. Tanpa harus menunggu lama ia mulai mengambil langkah, ia temui orang-orang tersebut guna menjalin kerjasama yang menguntungkan mereka ia berusaha meyakinkan para kontraktor-kontraktor dan pihak bank untuk memberikan dana kepadanya sebagai modal usaha.

Mengejutkan ketika ia malah berpikir untuk membeli lahan untuk ditanami pisang dan kopi, bukannya untuk mendirikan bengkel mobil atau membuka les komputer. Ketika ditanya mengapa, Pak Hasan saat itu hanya menjawab “harga tanah di Sumatera masih tergolong terjangkau saat ini” pikirannya sudah sngat jauh kedepan, ia memahami betul bahwa pisang dan kopi adalah komoditas utama kota Bandar Lampung untuk diekspor ke luar kota, dan tanah/lahan adalah komoditi tetap yang akan selalu beranjak naik harganya seiring dengan pesatnya perkembangan suatu kota. Dalam arti lain ia telah merencanakan untuk jaminan kehidupannya dan keluarga kedepan, 10tahun 20tahun kedepan semua orang akan sangat membutuhkan lahan untuk ditinggali dengan letak yang strategis dalam kota. Sebuah bisnis yang menjanjikan ketika komoditi yang dijual memiliki ketertarikan pasar yang besar, pisang dan kopi hal yang tidak dapat dipisahkan dari Lampung.

Selama lebih dari 5 tahun ia berbisnis komoditi ini tentunya selalu ada pasang surut keadaan pasar, pernah merugi hingga mencapai angka 100juta dengan hutang mencapai 500juta rupiah. Angka yang fantastis untuk keadaan defisit bagi pengusaha menengah saat itu, namun Pak Hasan terlahir sebagai Entrepreneur sejati, ia mampu bangkit dengan kemampuannya membaca pasar domestic dan pangsa pasar ekspor lainnya yang masih berkaitan dengan bisnisnya, alhasil dengan perencanaan dan kesabaran seorang Business man ia mampu mengatasi segala hutang dan kerugian yang pernah ia derita dengan omzet stabil mencapai 1miliar setiap tahunnya dengan karyawan tetap mencapai 100orang dan lahan berhektar-hektar. Namun cerita Pak Hasan tidak hanya berrakhir seperti ini, Ia seorang yang berani, selalu suka dengan tantangan dan hal-hal yang baru.

Menginjak usia yang ke-30 setelah menikahi seorang istri bernama Ajeng Sulistyorini wanita cantik asal Surabaya dan memiliki seorang anak yang bernama Andi Khoirudisani, bapak satu anak ini mulai mengingat-ingat kembali perjalanan hidupnya orang-orang yang berjasa dalam kehidupan dan karirnya hingga ia mengingat sebuah nama Om Rudi, pamanya yang dulu memberikanya hal-hal luar biasa tentang hidup dan Otomotif. Ia ingat dengan kata-kata terakhir beliau ketika pertama kali bertemu sebelum akhirnya mereka tidak pernah bertemu lagi setelahnya “aku datang untuk memberimu sesuatu untuk hidupmu yang lebih baik, yaitu Otomotif”. Ia sadar kehidupannya sudah mapan sekarang semua kebutuhan keluarga mampu terpenuhi dengan baik dan ia memiliki jaminan akan kehidupan berbisnisnya, ia pun berpikir untuk menyenangi dirinya sendiri dengan hobi. Otomotif telah menjadi bagian dirinya, selama lebih dari 3tahun kemampuan itu yang telah menyokong hidupnya, lebih dari hanya sekedar berterima kasih terhadap Om Rudi yang telah mengajarinya namun lebih kepada rasa syukur atas segala kesempatan yang telah diberikan Allah SWT selama hidupnya.

Tahun 2005 Ia membuka peluang usaha Otomotif di kota tempatnya tinggal, dengan hanya merekrut 5orang pemuda-pemuda lulusan STM bengkelnya pun mulai ramai setelah setengah tahun berjalan, bisa dikatakan waktu yang cukup singkat untuk kategori usaha yang baru berjalan. Sebenarnya bukan tanpa persiapan Pak Hasan membuka usaha bengkel ini, Ia adalah orang yuang penuh perencanan sebelum memulai usaha ia sudah mulai menjalin kerjasama dengan para pabrikan-pabrikan mobil dan suku cadang. Memsuki tahun kedua bengkelnya berjalan ia mulai merambah ke dunia pendidikan ia bekerjasama dengan pihak SMK jurusan Otomotif guna mencari bibit-bibit unggul dibidang tersebut untuk mampu dipekerjakan langsung di lapangan, hal ini disambut baik oleh pihak sekoah maupun rekanan bisnis lainnya, dan inilah yang mendorongku untuk tidak meninggalkan dunia pendidikan ketika kita sukses nantinya, karena kualitas pendidikan adalah cermin dari kualitas suatu bangsa.

Dan kini usahanya pun maju pesat, baik dari usaha ekspor kopi dan pisangnya atau dari pembukaan-pembukaan cabang bengkel miliknya dalam dan luar kota. Hal yang sangat membanggakan bagi kedua almarhum orang tuanya memiliki seorang anak yang berjiwa kritis, pantang menyerah, dan baik budi pekerti. Pak Hasan merupakan sosok nyata dari suatu sikap yang patut diteladani, perjalanan kehidupannya yang patut diapresiasi. Karena sukses adalah kepuasan kita ketika telah melakukan sesuatu, karenanya bagilah kesuksesan itu bagi orang-orang di sekitarmu, jika semakin banyak orang sukses di Negara ini, tentu akan semakin maju bangsa ini.


NB;

Yang menjadikan seseorang sebagai seorang pria adalah bukan darimana ia berasal, namun apa yang ia lakukan dalam hidup dan tidak pernah menyesal.

(BlackSwan, 2011)