Ketika semua orang berpikir bahwa melukis hanya terbatas dengan media berupa kanvas, namun tidak demikian bagi Rani Fransisca. Dara kelahiran Metro 30 Januari 1987 ini memulai karya professional bisnisnya dengan melukis di media kaos, ide ini berawal dari melihat begitu banyak hasil sablonan baju-baju yang sangat beragam warna dan gambar.

Yang unik dari hasil karya wanita berzodiak Aquarius ini, ia membuat lukisannya dari tusuk gigi sebagai media kuas. Alasannya dengan tusuk gigi dapat lebih mudah untuk melukis detail-detail dari gambar keseluruhannya. Karena tidak seperti kuas, tusuk gigi tidak memiliki serabut yang menyebabkan sulitnya menggambar detail karena bisa meluber atau yang lainnya.

Rani (seperti itu ia biasa dipanggil), memang semenjak usia Sekolah Dasar ia sudah menyukai seni lukis, bakat lukisnya ia peroleh dari Ibunya yang juga merupakan pengajar di salah satu sanggar lukis waktu itu “Mama yang mengajariku semua tentang bagaimana menjadi pelukis yang baik dan penuh inspirasi” akunya demikian. Ayahnya berperan besar dalam memotori antusiasme dalam bidang bisnis yang tengah digelutinya ini, “Ayah memahamiku serta memberikan supportnya dan itu yang kubutuhkan” ucapnya ketika ditanya tentang bagaimana sikap orang tua Rani terhadap bisnisnya.

Namun bukan tanpa kesulitan ketika ia memulai menggunakan tusuk gigi untuk melukis di media kain/kaos, “Aku harus belajar bagaimana membolongi kaos dulu sebelum aku bisa melukis gambar utuh” ucapnya sambil tertawa ketika ditanya tentang kesulitan-kesulitan yang ia temui pertama kali dalam melukis di atas media kain dengan kuas tusuk gigi. Lanjutnya, ia mengatakan encer atau kentalnya cat yang digunakan untuk melukis juga mempengaruhi kualitas gambar yang dihasilkan, demikian juga dengan jenis cat yang digunakan berbeda dengan untuk cat melukis di kanvas “karena ini kain dengan kontur yang berongga, jadi media dan komposisi yang digunakan pun hampir semua berbeda” terangnya demikian.

Sebelum sukses seperti sekarang ini, ia juga pernah mengalami kegagalan-kegagalan dalam bisnisnya tersebut khususnya dalam bidang pemasaran. Ketika ia sempat ragu untuk menjual hasil karyanya kepasaran, orang tua Rani selalu mendukung dan memberi kepercayaan penuh terhadap dirinya, hingga semangat itu menular dan menjadikan Rani sebagai orang yang penuh percaya diri dan tanggung jawab. Ia mengawali bisnisnya dengan membuka galeri seni lukis di ruang kosong di sudut rumahnya yang dulu sebagai sanggar lukis milik ibunya, teman dan orang-orang lain terkejut ketika mendapati media lukis Rani bukan berupa kanvas namun kain kaos. Semenjak itu banyak teman dan orang-orang yang memesan lukisan kaosnya tersebut, “ini bagus dan karya seni yang ekslusif, malahan langsung bisa dipakai” komentar salah satu konsumen yang puas dengan hasil karya Rani.

Para konsumen pun bisa memesan konsep, thema atau bahkan motif yang serupa yang mau dibuatkan oleh Rani, satu potong kaos hasil lukisannya dibandrol dengan harga berkisar 100 s/d 500rb tergantung berdasarkan kerumitan serta warna-warna yang diinginkan oleh konsumen. Umumnya Rani sangat kesulitan untuk melukis di atas media kain berwarna hitam, karena warna dasarnya yang gelap jadi memberi warna diatasnya pun harus melalui proses pelapisan-pelapisan lain agar warna lukis yang dihasilkan terlihat lebih terang dan indah.

Sekarang Rani pun disibukkan dengan kegiatan kesehariannya melukis “melukis adalah bagian diriku, dan aku ingin terus melakukannya” tegasnya, karena sesekali waktu ia juga melukis di atas kanvas. Menurutnya bukan media lukisnya yang menjadikan nilai lebih dari suatu seni, namun lebih kepada unsur perasaan yang dituangkan seorang pelukis di dalamnya sehingga menjadikannya sebagai suatu masterpiece yang bernilai.

Demikianlah, suatu ide dan hasil karya yang brilian dari seorang anak bangsa, menjadikan bahwa sebenarnya bangsa ini memiliki beragam potensi yang dimilikinya, untuk itu jangan jadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti berkarya.

-Untuk yang hidup untuk berkarya, karyakanlah dirimu.

BlackSwan, 2011

 

About these ads